Minggu, 18 Desember 2016
Kunaman
KUNAMAN
Menjelang petang, saatnya mahasiswa sekitar kampus Universitas Negeri Malang (UM) berburu makan malam. Jika yang dituju warung sekitar kampus sudah tentu yang ditemukan hanya menu- menu yang mulai membosankan. Seperti nasi goreng, lalapan dan tahu telur. Tapi malam itu kami menjumpai perbedaan dan sedikit terkejut ketika melintasi jalan Terusan Surabaya, tak sengaja terbaca 'Kunam Emprit' di sebuah lapak pinggir jalan.
Penasaran, akhirnya kami mampir mengisi perut. Menurut sang pemilik kudapan ini memang burung emprit (kunam, manuk, bahasa walikan khas Malang) yang dikenal sebagai musuh petani semasa panen. Burung emprit ini konon diterbangkan dari Kediri oleh mahasiswa jebolan D3 Elektro UM untuk disulap menjadi kudapan istimewa, unik, serta kayamanfaat.
Ide menerbangkan burung emprit ini muncul karena banyaknya burung emprit yang meresahkan petani di kota kelahiran pemilik 'kunam emprit' ini dan kemudian memanfaatkannya menjadi peluang usaha. Di Kediri sendiri, kuliner emprit sudah menjamur. Namun, terasa baru di Kota Malang. Konon, selain sebagai pengobat rasa lapar kudapan istimewa ini juga bisa mengobati penyakit asma. Keunikan tak hanya pada olahan emprit, namun juga penampilan sang penjual.
Selain ramah dan suka bercanda, si penjual selalu menggunakan penutup kepala atau udeng. Kembali ke soal citarasa kunam emprit yang ternyata bukan main di lidah saya. Bahkan saya berani menjamin, sekali mencoba, Anda bakal ketagihan dan akan kembali lagi menikmatinya.
Lapak sederhana Kunam Emprit ini buka mulai pukul lima sore dengan menu beragam, seperti krengsengan emprit, sate emprit, emprit original dan emprit setan. Untuk masalah harga juga ramah dengan kantong mahasiswa, bisa dibilang paket hemat. Dengan Rp 10.000 saja sudah bisa menikmati keunikan dan kekhasan rasa emprit plus minuman.
Atau, jika Anda mempunyai hajatan dan ingin menyediakan menu unik dengan harga sederhana sang pemilik kunam emprit ini siap menerima pesanan. Penasaran? Silakan menyusuri Jalan Terusan Surabaya di Malang.
Langganan:
Komentar (Atom)